Sabtu, 09 Juni 2012

Makalah: Relasi Iman dan Perbuatan Dalam Keselamatan



BAB I
PENDAHULUAN

          Diselamatkan oleh anugerah adalah suatu konsep dalam  teologi Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan manusia adalah pemberian Allah semata. Dalam konsep ini, keselamatan manusia tidak ditentukan oleh perbuatan yang dilakukannya, melainkan berdasarkan anugerah dari Allah yang diterima melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat. Keselamatan itu bukan karena pekerjaan atau perbuatan manusia, melainkan keselamatan itu anugerah Allah.[1] Konsep ini terdapat di dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dalam sejarah kekristenan, selanjutnya konsep ini banyak diperdebatkan, khususnya mengenai kontribusi manusia dalam mengusahakan keselamatannya.
          Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa manusia yang berdosa "telah diselamatkan dengan cuma-cuma melalui “anugerah" (Roma 4:16). Jadi dasar pembenaran itu adalah kematian Kristus, dan sarana yang olehnya pembenaran itu menjadi efektif adalah iman[2]. Akan tetapi, manusia harus merespon anugerah Allah tersebut bagi dirinya sendiri melalui iman. Melalui penjelasan tersebut, disimpulkan bahwa "karena anugerah oleh iman", selanjutnya dinyatakan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanm jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8), maka manusia diselamatkan. Dikatakan ‘jangan kamu memegahkan diri’ artinya jangan kamu menyangka bahwa pekerjaan yang kamu kerjakan adalah suatu jasa melainkan semuanya adalah kasih karunia.[3] Harun Hadiwijono menyatakan, “Menurut Roma 3: 21, 22, agar manusia dapat dibenarkan di dalam penghakiman Allah, ia harus memiliki kebenaran Allah karena iman di dalam Kristus Yesus.”[4] Kebenaran dari Allah diberikan di dalam Kristus karena iman. Dan iman ini adalah unsur penting dalam pengorbanan-Nya yang mendatangkan penebusan dosa.[5]
          Namun, dalam Yakobus 2: 14-26 menyatakan, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (ay 14). Selanjutnya Yakobus menyatakan, “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (ay 21). Sekilas memperhatikan ayat-ayat di atas, memberi kesan bahwa diperlukan usaha manusia dalam memperoleh keselamatan atau bukan karena anugerah saja.
          Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah Yakobus mengajarkan keselamatan  oleh iman atau oleh perbuatan? Atau keselamatan oleh iman + perbuatan? Apakah asal beriman saja tidak perduli moralnya baik atau jahat? Apakah Yakobus bermaksud menambahkan syarat lain yaitu ‘perbuatan’ ketika ia menyatakan “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (Ykb 2:21). ‘Apakah ada kontradiksi antara rasul lain secara khusus Paulus dengan Yakobus?

BAB II
LANDASAN TEORITIS RELASI IMAN DAN  PERBUATAN

1.   Definisi Iman
          Hal yang paling mendekati definisi dari iman di dalam Perjanjian Baru di temukan di Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Dalam kamus bahasa Indonesia, iman adalah kepercayaan kepada Tuhan (berkaitan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah; ketetapan hati, keteguhan hati.[6]
          Dalam Perjanjian Baru iman berarti: mengamini dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya kepada janji Allah, bahwa Ia  di dalam Kristus telah mendamaikan orang berdosa dengan diriNya sendiri, sehingga segenap hidup orang yang beriman dikuasai oleh keyakinan yang demikian itu.
          Jadi, iman di pandang sebagai tangan yang diulurkan manusia guna meneriman kasih karunia Allah yang besar. Juga dapat dikatakan bahwa iman dipandang sebagai “jalan keselamatan”. Dalam arti yang demikian jugalah kata iman dipakai di dalam ungkapan “orang benar itu akan hidup oleh imannya atau percayanya” (Hab. 2:4; bnd Rm. 1:17; Gal 3:11; Ibr. 10:38).
2.  Jenis-jenis Iman
          Alkitab tidak selalu membicarakan iman dalam pengertian yang sama. Louis Berkhof membagi empat jenis iman sebagai berikut:[7]
a)    Iman historis
          Iman ini sepenuhnya merupakan penerimaan atas kebenaran, tanpa memperhatikan tujuan moral maupun spiritual. Iman ini mungkin akibat dari suatu tradisi, pendidikan, pendapat umum, atau suatu kekaguman atas kebesaran Alkitab, dan sebagainya, yang disertai dengan tindakan umum Roh kudus. Mungkin saja iman ini sangat ortodoks dan alkitabiah, tetapi tidak berakar dalam hati, Mat 7:26; Kis 26:27; Yak 2:19
b)      Iman Mujizat
          Yang disebut dengan iman mujizat adalah suatu kepercayaan yang ada di dalam pikiran seseorang bahwa sebuah mujizat akan dapat dilakukannya atau dilakukan atas namanya. Allah dapat memberikan kepada seseorang satu pekerjaan yang mengatasi kekuatan alamaiahnya dan memungkinkan dia melakukannya. Setiap usaha semacam itu mambutuhkan iman. Hal ini sangat jelas dalam keadaan dimana manusia tampil hanya sekedar sebagai alat Tuhan atau sebagai seorang yang mengumumkan bahwa Tuhan akan mengerjakan mujizat, sebab orang semacam itu harus mempunyai rasa percaya yang penuh bahwa Tuhan tidak akan mempermalukan dia. Akhirnya Tuhan hanya dilihat hanya sebagai pembuat meujizat. Iman inipun dapat disertai iman yang menyelamatkan, Mat 8:10-13; Yoh 11:22.
c)      Iman Sementara
          Iman seperti ini adaalah kepercayaan terhadap kebenaran agama yang disertai dengan tuntunan hati nurani dan pengaruh perasaan, tetapi tidak berakar dalam. Istilah ini diambil dari Mat 13:20,21. Disebut sebagai iman sementara sebab tidak permanen dan gagal mempertahankan diri pada hari pencobaan dan kesulitan. Iman semacam ini kadang-kadang disebut iman munafik. Mungkin sebaiknya iman ini disebut sebagai iman khayalan. Kristus menyebut orang yang percaya sedemikian: “tidak berakar pada dirinya sendiri” (Mat. 13:21). Secara umum dapat dikatakan bahwa iman sementara berdasar pada hidup emosional dan berusaha mencari kesenangan pribadi dan bukan kemuliaan Tuhan.

d)      Iman yang Benar dan Menyelamatkan
          Iman yang benar dan menyelamatkan adalah suatu iman yang memiliki kedudukan dalam hati dan berakar pada hidup yang telah mengalami kelahiran kembali. Iman ini pertama-tama bukan tindakan manusia akan tetapi suatu potensi yang diberikan oleh Tuhan dalam hati orang berdosa. Benih iman ditanamkan dalam diri manusia ketika ia mengalami kelahiran kembali. Hanya sesudah Tuhan menanamkan benih dalam hati manusia, maka ia dapat melakukan tindakan iman. Iman yang menyelamatkan dapat didefinikan sebagai suatu keyakinan yang pasti yang ditanamkan dalam hati manusia oleh Roh Kudus, kepada kebenaran injil dan suatu kepercayaan yang sesungguhnya pada janji Allah dalam Kristus. Akhirnya memang benar bahwa Kristus adalah objek iman yang menyelamatkan, tetapi Ia diberikan kepada kita hanya melalui injil.

3.   Diselamatkan Hanya Oleh Karena Iman
Di dalam Yohanes 19:30 dapat dibaca mengenai saat-saat terakhir penderitaan Yesus pada kayu salib,  “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Suda selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”
Di sini perkataan bahasa Yunani yang diterjemahkan “sudah selesai” merupakan pilihan kata yang paling sempurna yang dapat dipakai. Itulah kata kerja dalam bentuk perfek itu sendiri mengandung dengan tuntas, dan hasilnya masih tuntas sampai sekarang (sempurna). Untuk menggambarkannya: “sudah disempurnakan dengan sempurna” atau sudah dipenuhi dengan sepenuhnya”. Artinya, benar-benar selesai, sehingga tidak diperlukan apa-apa lagi untuk menambahkan kesempurnan.
Segala sesuatu yang perlu dilakukan untuk membayar lunas hukuman atas dosa-dosa manusia dan membeli kebebasan dan keselamatan semua manusia sudah dikerjakan melalui penderitaan dan kematian Yesus pada kayu salib.  Jika kita mengajarkan, bahwa masih ada yang harus dilakukan di samping apa yang telah dilakukan oleh Kristus, sesungguhnya kita menolak mengakui bahwa karya penebusan Yesus sempurna.
Dengan demikian, jika seseorang ingin mengusahakan sendiri keselamatannya dengan perbuatan yang baik,  baik seluruhnya ataupun sebagian saja, sesungguhnya ia menghina Allah Bapa dan Allah Anak. Mengapa? Karena hal itu menimbulkan kesan seolah-olah karya penebusan dan keselamatan yang sejak semula direncanakan oleh Anak-Nya itu belum cukup, belum selesai. Ini jelas bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh seluruh Perjanjian Baru.
          Rasul Paulus dengan tegas dan secara berulang kali mengajarkan hal ini. Di dalam Roma 4:4-5 ia menulis, “Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.”
Perhatikan ungkapan “orang yang tidak bekerja, namun percaya”. Jelas dikatakan di situ, untuk mendapatkan keselamatan ada satu syarat yang harus dipenuhi: orang itu sama sekali tidak boleh bekerja. Ia harus berhenti berusaha melakukan sesuatu untuk memperoleh keselamatan. Sebagai suatu imbalan. Keselamatan hanya diperoleh karena iman. Selama manusia masih juga berusaha melakukan sesuatu untuk memperoleh keselamatannya, ia tidak akan mengalami keselamatan yang diberikan  Allah, sebab keselamatan itu hanya diperoleh dengan percaya.[8]
Paulus menegaskan kebenaran ini dalam Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Perhatikan bahwa di dalam tulisan bahasa Yunani, Paulus memakai kata kerja bentuk perfek, artinya “kamu sudah diselamatkan”. Ayat ini mengatakan bahwa kita sudah diselamatkan sekarang juga, pada waktu masih hidup di dunia ini. Jadi, keselamatan itu bukanlah sesuatu yang baru didapatkan sesudah kematian.
Keselamtan bukanlah ‘upah’ dari perbuatan baik, melainkan ‘karunia’ dari Allah. Hal ini dijelaskan oleh Paulus dalam Titus 3:5, “Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus…” melalui ayat ini cukup jelas, Dia telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya. Jika kita diselamatkan, hal itu bukan terjadi karena perbuatan baik yang kita lakukan, tetapi karena belas kasihan dan rahmat Allah semata-mata.[9]
4.   Relasi Iman dan Perbuatan Menurut Rasul Paulus
          Rasul Paulus memberi penjelasan yang luas tentang kaitan antara keselamatan dengan iman dan perbuatan. Namun pemahaman yang tepat tidak didapatkan tanpa mengetahui bahwa Pada intinya Paulus berjuang melawan konsep para rabi Yahudi tentang keselamatan yang diperoleh perbuatan berdasarkan hukum taurat. Oleh karena itu maka Paulus menyatakan, “Kita dibenarkan hanya oleh iman dan bukan oleh perbuatan-perbuatan berdasarkan hukum taurat (Rm 3:28).”[10] Herman Riderbos menyatakan, “Bagi Yudaisme, taurat adalah penangkal penting bagi ancaman dan kuasa dosa. Taurat adalah sarana penting untuk mendapatkan kebenaran di hadapan Allah”[11] Selanjutnya Riderbos menjelaskan bahwa yudaisme tidak mengenal jalan keselamatan selain oleh taurat. Israel memeluk taurat sebagai sumber keselamatan. Taurat dianggap sanggup memberikan hidup kepada manusia dan melakukan taurat dapat mengurangi hukuman dosa.[12]
Berlawanan dengan faham yudaisme di atas, dasar ajaran Paulus mengenai pembenaran adalah karya Allah yang dilaksanakan di dalam Kristus. Semua ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita manusia dengan diriNya; sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus” (2 Kor. 5:18-19). Ayat lain mengatakan, “Ia telah melepaskan kita dari kekuasaan kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan AnakNya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita” (Kol. 1:13-14). Dalam Roma 3:26 dikatakan bahwa Allah membenarkan orang yang percaya kepada Kristus.[13]
Dalam surat Paulus kata “membenarkan” paling tidak mempunyai beberapa arti: (1) Allah menyatakan orang , yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus mempunyai hubungan yang benar dengan-Nya (Rm. 3:26); (2) Manusia dibebaskan dari dosa (Rm. 6:7); (3) Manusia dibebaskan dari kesalan (Rm. 2:13); (4) Allah terbukti benar (Rm. 3:4). Ajaran Paulus mengenai “dibenarkan” berhubungan dengan tantangan besar yang dihadapinya, yaitu yudaisme yang percaya bahwa kebaikan manusia perlu diperhitungkan di depan Allah. Jadi dalam banyak kasus Paulus menunjukkan bahwa keselamatan semata-mata adalah anugerah Tuhan. Anugerah ini diberikan kepada manusia melalui imannya kepada Yesus Kristus (Rm. 3:24). Jadi iman yang dimaksud Paulus adalah sikap dan keputusan yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada anugerah Allah.[14]
Paulus menegaskan “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.” (Roma 3 21-24). Keselamatan menjadi efektif bagi manusia kalau diterima dalam iman. Oleh sebab itu Paulus dapat berkata bahwa manusia dibenarkan karena iman, dengan kadang-kadang menambahkan tanpa pengalaman hukum.
Manusia menjadi benar artinya tanpa salah di hadapan Tuhan, bukan karena ia memang tanpa salah tetapi karena Allah telah memperdamaikan dunia dengan dunia dengan diriNya dalam Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran-pelanggaran lagi. Dalam Kristus Allah menerima manusia berdosa dan dengan demikian Allah meniadakan dosa. Sebetulnya tidak dapat dikatakan (dalam arti yang sebenarnya) bahwa imanlah yang menyelamatkan: yang menyelamatkan adalah Allah sendiri, tetapi karya Allah itu menjadi efektif bagi manusia kalau diamini dengan iman. Maka berlawan dengan pengalaman hukum atau usaha manusia lainnya, tepatlah perkataan bahwa manusia diselamatkan oleh iman. Dari pihak manusia hanya ada satu jalan kepada keselamatan yakni menerima dalam iman-dari tangan Tuhan, dengan cuma-Cuma. Singkatnya: “Oleh rahmat kamu diselamatkan dengan jalan kepercayaan, bukan oleh usaha kamu sendiri melainkan secara dianugerahi oleh Allah, jadi tidak berdasarkan perbuatan-perbuatan agar jangan seorangpun memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).
Kesimpulan penulis adalah ketika Paulus mengatakan “manusia dibenarkan hanya oleh iman dan bukan karena perbuatan-perbuatannya” maka perbuatan yang Paulus maksudkan disini adalah Perbuatan berdasarkan hukum taurat. Pernyataan-pernyataan Paulus tentang “keselamatan hanya oleh iman dan bukan karena pekerjaanmu atau usahamu” maka pekerjaan atau usaha yang dimaksud Paulus adalah usaha menaati hukum taurat sebagai yang olehnya mereka (yudaisme) diselamatkan.

5.   Relasi Iman dan Perbuatan Menurut Para Reformator
Isu berkenaan dengan usaha manusia dan anugerah dalam keselamatan merupakan inti dari perbedaan historis antara teologi Roma Katolik dengan Protestan. Deklarasi utama dari reformasi adalah sola gratia, yaitu keselamatan hanya merupakan anugerah Allah semata-mata. Sebelum reformasi pada abad 16 yang dipelopori oleh Marthin Luther, pemahaman tentang peranan iman dalam keselamatan telah mangalami pertukaran posisi. Iman bukan lagi sebagai yang utama dalam keselamatan tetapi perbuatan atau amal baik manusia.
Stephen Tong menyatakan,“Para reformator menekankan mengenai iman kepercayaan. Iman kepercayaan bukan semacam pengakuan intelektual terhadap doktrin yang dipaksakan. Juga bukan semacam pengertian ajaran yang hanya bersifat rasionil saja. Tetapi iman kepercayaan bagi Luther adalah suatu penerimaan-atas-penerimaan. Artinya anugerah diberikan kepada kita, yaitu Allah menerima orang berdosa. Iman itu suatu penyerahan total dihadapan anugerah Allah yang menghentikan segala pergumulan atau penyandaran pada diri sendiri yang tidak layak, sebaliknya melihat Dia yang melayakkan kita”[15]
R.C. Sproul menyatakan, “Deklarasi Marthin Luther bahwa pembenaran hanya berdasarkan iman merupakan artikel yang di atasnya berdiri dan jatuh. Pembenaran dapat dijabarkan sebagai tindakan dimana orang berdosa yang tidak benar dibenarkan dihadapan Allah yang kudus dan adil. Kebutuhan utama dari orang yang tidak benar adalah kebenaran. Kebenaran yang tidak dimiliki inilah yang disediakan oleh Kristus kepada orang berdosa yang percaya. Pembenaran berdasarkan iman saja berarti pembenaran yang terjadi oleh karena usaha Kristus semata-mata, bukan karena kebaikan kita atau perbuatan-perbuatan baik kita”[16]
Jadi, para reformator sampai pada keyakinan yang kuat bahwa keselamatan hanya berdasarkan iman (sola fide) dan bukan karena perbuatan baik manusia. 31 Oktober 1517, pada waktu Luther menempelkan sembilan puluh sembilan tesis di pintu gereja di Witenberg, dapat dilihat sebagai permulaan reformasi, dengan  pengukuhan dari keselamatan berdasarkan anugrah melalui iman, bukan pandangan sinergistik atau kerjasama antara iman dan perbuatan dari gereja Roma Katolik[17]. Sebagai akibatnya Luther menolak doktrin pengakuan dosa, pengampunan dosa dan bentuk lain apapun dari usaha manusia yang dibutuhkan untuk keselamatan dari Roma Katolik. Luther sampai pada suatu kesimpulan bahwa hanya anugerah Allah yang merupakan dasar dan fondasi dari keselamatan serta jastifikasi manusia. Ia mengajarkan bahwa hanya anugerah Allah yang mengampuni dosa-dosa dan pengimputasian kebenaran dari Kristus pada mereka yang percaya.[18]
Paul Ennes menyatakan, “Luther mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak berbagian dalam keselamatan. Perbuatan-perbuatan baik merupakan hasil atau buah dari keselamatan, tetapi tidak pernah bagian dari keselamatan.”[19]
Kesimpulan penulis dari uraian di atas adalah bahwa sebelum reformasi, gereja Roma Katolik menganut paham keselamatan diperoleh melalui kerja sama dari perbuatan-perbuatan baik dengan iman. Sebelum reformasi, perbuatan atau amal baik menempati posisi utama sebagai sarana bagi keselamatan daripada iman. Kemudian Luther melakukan reformasi bahwa keselamatan berdasarkan anugerah melalui iman, perbuatan baik tidak berbagian dalam keselamatan. Perbuatan-perbuatan baik merupakan hasil atau buah dari keselamatan, tetapi tidak pernah bagian dari keselamatan. Karena itu bagi reformator berbuat baik karena telah selamat bukan berbuat baik supaya selamat.






BAB  III
RELASI IMAN DAN PERBUATAN
BERDASARKAN EKSPOSISI YAKOBUS 2 : 14 – 26

          Sangat penting untuk mengeksposisi Yakobus 2:14-26 terlebih dahulu untuk mendapatkan relasi yang tepat dan benar antara iman dan perbuatan karena ayat-ayat inilah yang diaanggap akan memberikan informasi yang lengkap akan hubungan keduanya.

A.   Kajian Eksposisi  Yakobus 2:14-26
          Douglas J. Moo seorang penafsir konservatif memberi judul untuk Yakobus 2:14-26, Iman yang menyelamatkan menyatakan dirinya dalam perbuatan-perbuatan[20]. Kalau memperhatikan isi dan unsur retorik dalam Yakobus 2:14, 17, 20 dan 26, jauh lebih baik Yakobus 2:14-26 dibagi menjadi tiga bagian subbagian: Yakobus 2:14-17, 18-20, 21-26. Dengan pembagian ini, tiga subbagian berdiri sendiri namun saling berkaitan. Garis besar seperti ini akan lebih memperhatikan argument-argumen Yakobus yang kuat dan menarik. Pembagian ini dilakukan karena masing-masing subbagian mempunyai pembahsan yang utuh. Ditambah lagi ayat 17, 20 dan 26 mempunyai topik dan pola yang mirip yang menandakan berakhirnya suatu subbagian.[21]

1)   Yakobus 2:14-17 (Iman dan Prakteknya)

          Yakobus 2:14, Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
          Tafsiran J.J.W. Gunning menyatakan, “Tidak ada gunanya kalau seseorang mempunyai iman yang tidak disertai perbuatan. Iman itu sendiri tidak dapat menyelamatkan atau dengan kata lain iman itu tidak akan diteima Allah.[22] Iman itu tidak menyelamatkan dirinya dan karena itu tidak berguna.
          Kata Iman di dalam ayat 14 kemungkin besar adalah kepercayaan kepada Yesus Kristus secara pribadi. Pengertian ini dikuatkan oleh kenyataan bahwa iman dihubungkan dengan keselamatan seseorang. Kemudian kata perbuatan jangan diartikan sama dengan pengertian yang biasa terdapat dalam surat-surat Paulus yaitu menaati peraturan hukum Musa. Disini yang dimaksud adalah perbuatan-perbuatan baik seperti belas kasihan (ay 13) dan pemberian sedekah kepada orang miskin yang berkekurangan (ay 15 dan 16)[23] Perbuatan yang dimaksud oleh Yakobus bukanlah perbuatan menurut pemahaman Yahudi yaitu sarana untuk memperoleh keselamatan, namun perbuatan iman hasil moral dari kesalehan sejati da khususnya perbuatan kasih.[24]
          Kalimat dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Di sini Yakobus seolah-olah tidak sepakat bahwa keselamatan hanya oleh iman saja. Namun, umumnya penafsir menjawab pertanyaan ini “tidak”. Charles F. Pfeifer dan Everent F. Harrison menyatakan, “Jawaban yang diharapkan dari pertanyaan dalam ayat ini adalah “tidak” yang tegas. Mengapa? Karena penting untuk dicatat bahwa iman yang dibahas di sini adalah iman yang palsu. Hal ini di jelaskan oleh: (1) pernyataan jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman dan (2) pemakaian kata sandang tertentu yang digabungkan dengan kata iman pada anak kalimat terakhir. Hanya iman palsu yang tidak dapat menghasilkan perbuatan dan tidak mampu menyelamatkan.”[25] Apa yang ingin ditekankan Yakobus adalah kenyataan bahwa iman tanpa perbuatan tidak memiliki kekuatan: iman itu tidak dapat menyelamatkan.
          Yakobus menekankan bahwa tidak ada pemisahan antara iman dan perbuatan. Tidak ada seorangpun dapat mengatakan bahwa dirinya memiliki iman jika tidak ada perbuatan yang membuktikannya. Iman yang sesungguhnya harus diungkapkan dalam perbuatan.[26] William Barclay, “Satu hal yang yang ditentang penulis surat yakobus adalah pengakuan iman tanpa dibarengi praktek, kata-kata tanpa perbuatan.”[27]
            Pada ayat 15 Yakobus memberi gambaran seseorang yang sangat miskin sehingga kebutuhan hidup yang paling dasarpun seperti pakaian dan makanan, tidak dapat dipenuhi. Ini merupakan gambaran seorang yang kedinginan (kalau daerah itu memang dingin) atau kelaparan. Pada ayat 16 dia melanjutkan ilustrasinya yang hampir sama maknanya.
          William Barclay menyatakan, “Yakobus memilih ilustrasi yang secara gamblang menjelaskan yang ia maksud. Jikalau seorang tidak meiliki pakaian untuk melindungi dirinya ataupun makanan untuk dimakan, dan sahabat orang itu mengungkapkan rasa simpatinya yang terdalam untuk keadaan yang menyedihkan itu, namun simpatinya itu berhenti hanya pada kata-kata dan tidak ada usaha yang dilakukannya untuk mengatasi keadaan orang yang malang itu, apa gunanya semua itu? Apakah gunanya simpati itu tanpa ada usaha mewujudkannya dalam tidndakan nyata. Iman tanpa perbuatan adalam mati.”[28]
          Dalam Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Klausa ‘demikian juga halnya dengan iman’ merupakan kesimpulan dari perbandingan pada ayat sebelumnya. Yakobus melakukannya dengan menggunakan kata “demikian” yang mempunyai arti sejajar dengan contoh yang diberikan. Demikian di sini sama artinya dengan frasa “dengan cara yang sama”.
          Kata iman (ay 17) yang digunakan Yakobus menunjuk pada apa yang disebut iman pada ayat 14.[29]  Demikianlah juga iman yang tidak disertai dengan perbuatan tidak ada artinya. Iman yang demikian tidak boleh sama sekali disebut iman.[30]
          Kata-kata jika iman itu tidak disertai perbuatan secara harafiah berarti “jika iman tidak memiliki perbuatan” maka jelas bahwa perbuatan bukan sesuatu yang ditambahkan pada iman – keduanya harus ada bersama-sama. Penulis tidak bermaksud untuk membedakan antara iman dan perbuatan; yang dibedakan adalah antara iman yang disertai perbuatan dan iman yang tidak disertai perbuatan. Bagi Yakobus iman harus disertai oleh perbuatan. Yang satu tidak dapat ada tanpa yang lain, sebab iman yang tanpa perbuatan adalah mati.
          Kemudian Yakobus menyatakan, “Maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Kata mati dipakai sebagai kiasan yang artinya “tidak hidup, tidak bekerja, tidak berguna”. Dalam banyak bahasa, penerjemah perlu mengatakan sebagai berikut: kepercayaanmu tidak berguna, atau percaya seperti itu tidak berguna/(tidak menghasilkan apa-apa). Kesimpulan itu menjelaskan bahwa orang Kristen tidak cukup hanya mengucapkan kata-kata harapan kepada saudara dan saudarinya yang berkekurangan. Orang yang mengaku Kristen harus memberikan pertolongan kepada yang membutuhkannya. Kalau tidak kepercayaan itu keparcayaan yang mati.
          Ronald A. Ward menyatakan, “Dalam hal ini kita mendapat suatu ajaran bila membandingkan dengan Lukas 23:43. Penjahat yang bertobat itu tidak mempunyai waktu lagi untuk berbuat sesuatu sedangkan imannya tidak mempunyai waktu untuk mati. Tentu Yakobus tidak mau menyangkal hal ini. Yang dimaksud ialah iman yang sungguh-sungguh mempunyai kesempatan untuk dinyatakan di dalam perbuatan, tetapi kesempatan yang ada tidak digunakannya.”[31]
          Jadi, ayat 14 menjelaskan dengan terus terang bahwa iman tidak berguna tanpa perbuatan. Dalam ayat 17, Iman demikian tidak ada gunanya. Karena iman yang tanpa perbuatan itu tidak ada gunanya, maka iman kepercayaan demikian tidak dapat menyelamatkan jiwanya. Artinya Iman tanpa perbuatan adalah iman yang palsu. Karena iman ini mati, maka iman ini tidak dapat menyelamatkan orang yang bersangkutan.[32]

2)   Yakobus 2:18-20 (Iman dan Perbuatan Tidak Dapat Dipisahkan)

          Dalam lalimat ‘tetapi mungkin ada orang berkata’ penerjemah menghadapi masalah karena tidak tahu siapa lawan bicaranya ini, ada bebrapa kemungkinan pemecahannya, tetapi tidak ada satupun yang benar-benar meyakinkan, sehingga kita harus puas dengan pemecahan yang paling sedikit kesulitannya:
a)    Beberapa ahli menganggap bahwa orang lain itu lawan Yakobus. Hal ini berarti kata tetapi menrupakan pengantar terhadap suatu sanggahan. Masalahnya, di manakah kata-kata orang yang membantah itu selesai dan di manakah kata-kata Yakobus dimulai. Kebanyakan ahli menganggap kata-kata orang lain itu hanya padamu ada iman dan padaku ada perbuatan. Tafsiran ini yang diikuti oleh TB
b)    Kemungkinan yang lain adalah dengan menganggap kata ganti “mu” dan “ku” pada bagian pertama ayat ini bukan lawan Yakobus, tetapi sebagai wakil dari dua kelompok dalam jemaat. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa mereka hanya hanya memiliki iman (tanpa perbuatan), sedangkan yang lain memiliki perbuatan saja. Orang-orang itu menyatakan bahwa iman dan perbuatan merupakan anugerah yang terpisah satu sama lain (1Kor. 12:4-10); Seseorang dapat memiliki salah satu saja dari keduanya, tetapi tidak selalu meiliki keduanya secara bersamaan. Kemudian Yakobus membantah pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada pemisahan antara iman dan perbuatan. Jadi, kata ganti “mu” dan “ku” sama dengan ‘orang’ dan “yang lain”. Tafsiran ini diikuti oleh BIMK (“ada orang yang bersandar kepada imannya dan ada pula yang bersandar kepada perbuatannya”) dan salah satu terjemahan membuatnya sebagai “seorang memilih iman, yang lain memilih perbuatan atau ada orang yang berkata, aku mempunyai dan yang lain berkata aku mempunyai perbuatan”. Agar urutan percakapan itu jelas, kita perlu menambahkan sesuatu yang tersirat dalam teks untuk memperjelas perkembangan pemikirannya, umpamanya aku akan menjawab dia (TB), saya akan menjawab (BIMK).
          Walaupun masih ada kesulitan, mungkin kita harus mengikuti tafsiran (b), karena tafsiran itu kelihatannya paling sesuai dengan konteks sehingga lebih banyak penerjemah dan ahli tafsir yang mengikutinya.[33] 
          Yakobus 2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Kini Yakobus membandingkan iman yang tidak ditunjukkan dengan perbuatan dengan iman yang dimiliki setan-setan. Untuk memulai pendapatnya dia mengutip apa yang menjadi inti iman Yahudi, yang diakui oleh dirinya dan lawannya.
          Kata percaya di sisni adalah kepercayaan berdasarkan pemikiran saja yaitu bahwa hanya ada satu Allah saja. Pengakuan ini bersumber dari pengakuan iman shema yang terkandung dalam ajaran agama Yahudi (Ul. 6:4) dan dipakai juga oleh orang Kristen (Mrk. 12:29; Rm. 3.30). Yabobus bermaksud mengatakan bahwa orang yang percaya bahwa Allah itu esa tanpa membiarkan kepercayaan ini mengubah perilakunya, memiliki iman yang sama dengan setan-setan, yaitu roh-roh jahat. Iman itu tidak dapat menyelamatkan.
          Kepercayaan demikian hanya berada dalam tahap pengetahuan dan belum diwujudkan dalam kelakuan. Iman kepercayaan seperti ini bukanlah iman yang sejati, karena di dalamnya tidak ada pertobatan dan kasih.  Tanpa kedua unsur ini, iman kepercayaan setan-setan tidak menolong diri mereka. Analogi ini cukup keras, terlebih bagi orang  Kristen  yang  mempunyai latar belakang Yahudi. [34]

          Yakobus 2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Kalimat Hai manusia yang bebal berarti “orang bodoh yang kosong kepalanya”. Kata kosong di sini menunjukkan kurangnya pengertian yang berarti “tidak berakal” atau “bodoh”.  Maukah engkau mengakui bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong.  Pemikiran yang sama dengan ini telah dinyatakan beberapa kali. Iman tidak ada perbuatan disebut tidak ada gunanya pada ayat 14, disebut mati pada ayat 17 dan di sini disebut kosong yang secara harafiah berarti “tidak bekerja”, yaitu “tidak berpengaruh” atau “tidak menghasilkan”. Dapat diamati permainan kata-kata di sini: “iman tanpa perbuatan adalah tidak berbuat”. Pernyataan ini menyimpulkan pokok pikiran utama dalam bagian ini.
          Yakobus hendak menegaskan adanya iman tidak dapat dibuktikan tanpa melalui perbuatan. Iman justru menyatakan keberadaannya memalui perbuatan. Perbuatan-perbuatan Yakobus merupakan bukti nyata tentang adanya iman pada dirinya. Ini tidak berarti perbuatan itu lebih penting daripada iman. Bila seseorang berbuat baik (membuahkan perbuatan) tetapi itu bukan hasil dari beriman, maka sia-sialah perbuatan itu. Maksudnya perbuatan itu tidak ada artinya di mata Tuhan. Bukankah kita diselamatkan oleh iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan baik kita? Kita tidak berbuat baik untuk diselamatkan, tetapi kita berbuat baik karena sudah diselamatkan.[35]
         
3)   Yakobus 2:21-26 (Iman dan Buktinya)
          Sub unit ini mengambil dua tokoh dalam sejarah orang Yahudi Abraham dan Rahab sebagai contoh. Mereka telah membuktikan iman mereka dengan berani dalam tindakan nyata. Iman Abraham terbuti dengan mempersemahkan anak yang dikasinya. Sedangkan Rahab menyatakan imannya melalui pertolongan yang dia berikan kepada dua orang pengintai.
          Yakobus 2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
          Penafsiran tentang kata “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya” perlu diperhatikan suasana perselisihan di antara yang kaya dan yang miskin. Berita utama Yakobus dalam konteks ini tidak berkaitan langsung dengan soteriologi. Maka kalimat “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya” di Yakobus 2:21 harus dimengerti dari Perjanjian Lama. Tindakan  Abraham mempersembahkan Ishak diperkenan Allah (Kejadian 22:1-19). Dengan konteks ini  kata “dibenarkan” mempunyai arti dikenal dan diberi pahala oleh Allah; Perbuatannya diperkenankan Allah.[36] Dengan demikian pembaca surat Yakobus mendapat dorongan besar untuk mengikuti jejak bapak leluhur mereka, Abraham. Di lain pihak, contoh ini mengingatkan mereka akan keputusan berani yang diambil Abraham. Banyak hal memang membutuhkan keberanian. Ini amat dirasakan oleh pembaca kitab ini. Tidak mudah untuk tidak memandang muka atau memberi bantuan kepada saudara seiman yang kelaparan. Dalam masyarakat yang kebanyakan penduduknya miskin, tidak mudah membantu orang lain. Bukan saja karena kebutuhan sendiri belum terjamin, tetapi juga karena pemberian sedikit bantuan akan menarik lebih banyak orang datang untuk minta bantuan. Ini semua sangat tidak mudah di atasi.[37]
          Menurut Charles F. Pfeiffer dan Everent F. Harison bahawa kata yang diterjemahkan menjadi dibenarkan di sini jangan dikelirukan dengan pemakaian istilah tersebut oleh Paulus dalam hubungan dengan Abraham (bnd Rm. 4:1-5). Paulus menunjuk kepada pembenaran awal Abraham ketika “percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (bnd. Kej 15:6). Yakobus mengacu pada suatu peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian, yaitu ketika Abraham diminta untuk mempersembahkan anaknya Ishak. Melalui tindakan ini dia menunjukkan realitas dari pemahaman kejadian 15. [38]
          Yakobus 2:22, Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.Nya.
          Bagi Yakobus, iman tidak mungkin bisa dipisahkan dengan perbuatan-perbuatan, karena seseorang yang mengaku diri beriman kepada Allah, ia harus menjalankan perintah-perintah-Nya dan otomatis perbuatan-perbuatannya mencerminkan bahwa seseorang itu beriman kepada Allah atau bukan.   Doren Wjdana menyatakan bahwa Perbuatan tanpa iman adalah perbuatan yang sia-sia. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong. Iman yang bekerja sama dengan perbuatan adalah iman sejati.[39]
          Perbuatan dan iman kepercayaan sama pentingnya. Untuk menegaskan maksud ini, Yakobus memakai kata “bekerja sama” dan menjadi “sempurna” (atau diterjemahkan “disempurnakan”, kata pertama “bekerja sama” dapat dibaca sebagai suatu permaiman kata yang menanggapi kata “perbuatan” di ayat 21. Kata “bekerja sama” ini dapat juga diterjemahkan “membantu”. Terjemahan ini serasi dengan kata “disempurnakan” di ayat 22b.
           Apa arti disempurnakan? Ini berkaitan dengan kedewasaan yang dibahas Yakobus 1:4. Kalau memperhatikan topik bagian ini, ayat ini sebaiknya dipahami sebagai “iman membantu perbuatan terlaksana dalam kehidupan; iman tidak dapat dikatakan “sejati” (sempurna) tanpa perbuatan yang nyata.”[40] Memisahkan iman dari perbuatan suatu yang mustahil (bnd ay 18). Di dalam kasus Abraham, kedua hal tersebut berjalan bersama-sama.”[41]
          Yakobus 2:23, Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah." Melalui ayat 23, Yakobus tetap mengatakan bahwa Allah memperhitungkan iman (kepercayaan) Abraham (bukan perbuatannya) kepada Allah sebagai status yang dibenarkan. Bagian ini mengutip kitab Kejadian 15:6 yang mengatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Iman Abraham berkaitan dengan kebenaran, menemukan makna terakhirnya dalam ketaatannya.[42]
Sebenarnya ayat ini dapat dipahami dengan pendekatan yang lebih sederhana.Yakobus menulis bagian ini dengan tujuan yang jelas. Dia menekankan bahwa iman kepercayaan tanpa perbuatan tidak berguna. Tetapi di lain pihak dia ingin menjaga keseimbangan. Abraham diperkenan Allah karena dia adalah seorang yang beriman. Iman kepercayaannya sudah terlihat jauh sebelum ia mempersembahkan Ishak.  Apa yang dilakukan Abraham kemudian menggenapkan apa yang disabdakan Allah tentang dia di Kejadian 15:6. Allah berkenan padanya karena Abraham memperlihatkan iman kepercayaannya yang konsisten.[43]
          Yakobus 2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
          Dalam penafsiran ayat ini, Kata-kata “…bukan hanya karena iman” seharusnya dimengerti dalam subbab ini, khususnya Yakobus 2: 18, 19. Manusia dibenarkan bukan karena iman yang kosong, contohnya iman kepercayaan setan-setan (ay 19). Jadi iman yang sejati yang berguna bagi manusia. Iman seperti ini diwujudkan dalam perbuatan. Ayat ini ditunjukkan kepada “saudara-saudaraku” di Yakobus 2:14 bukan penentang di Yakobus 2:18.
          Manusia tetap dibenarkan melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, tetapi kalau iman yang menyelamatkan itu saja yang menjadi pegangan, bagaimana orang lain dapat melihat bahwa diri kita beriman, kalau perbuatan-perbuatan kita sama jahatnya dengan orang-orang dunia? Di sini, Yakobus ingin menyeimbangkan dan mengintegrasikan iman yang menyelamatkan dan hidup dengan perbuatan-perbuatan sehari-hari yang memuliakan Allah.
          Yakobus 2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? Di sini Yakobus menambahkan satu contoh lagi untuk membuktikan pendapatnya bahwa iman harus dinyatakan dalam perbuatan agar diterima oleh Allah.
          Rahab tokoh penting dalam PL. Dia dikenal karena dua hal, pertama, dia dikenal sebagai seorang pelacur bukan yahudi, yang mengeluarkan pengakuan yang terkenal “TUHAN”, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah (Yosua 2:11).” Kedua, dia juga dikenal sebagai orang asing yang menyamakan dirinya dengan orang Israel dan masuk dalam masyarakat tersebut, dan “sampai hari ini keturunan Rahab masih ada di Israel (Yosua 6:25, BIMK)”.
            Dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya: kata-kata ini, artinya sama dengan di ayat 21. Dalam hal ini, perbuatan-perbuatan Rahab adalah penyambut pengintai-pengintai bangsa Israel dan menolong mereka untuk melarikan diri. Disini kata-kata “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya” dapat juga diterjemahkan sebagai Allah menerimanya sebagai orang yang baik karena perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya. Lebih tepatnya Hasan Susanto menyatakan bahwa kata “dibenarkan” pada kalimat “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya” lebih mungkin berarti dikenal dan diberi pahala oleh Allah. Iman kepercayaan Rahab terbukti melalui perbuatannya. Dia diperkenan oleh Allah.[44]
          Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. Disini Yakobus menyimpulkan pendapatnya. Dia mengulangi pemikiran-pemikirannya yang dinyatakan pada ayat 17, yaitu bahwa iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati, tetapi dia menambahkan perbandingan untuk membuatnya lebih jelas. Yakobus membandingkan iman tanpa perbuatan denga tubuh tanpa roh. Menarik sekali bahwa, dalam kalimat ini, iman disejajarkan dengan tubuh, dan perbuatan dengan roh. Mungkin hal ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan, namun kita tidak perlu mencari rincian perbandingan  itu yang setepatnya. Yakobus tidak tertarik akan hal ini, sebaliknya dia ingin menunjukkan bahwa yang satu tidak dapat hidup tanpa yang lain.
          Tubuh tanpa roh adalah mati, pada kalimat ini ada kemungkinan bahwa Yakobus menunjuk kepada pemikiran yang mendasari Kejadian 2:7, di mana manusia dianggap terdiri atas tubuh tanpa roh (baik dalam bahasa Ibrani maupun dalam bahasa Yunani kata yang dipakai untuk “roh” dapat diartikan “napas maupun roh). Ada hubungan antara keduanya; apabila keduanya dipisahkan, hasilnya adalah kematian. Di sini roh mungkin lebih ditafsirkan sebagai napas yang memberi kehidupan, umpamanya tubuh akan mati kalau tanpa napas, atau seperti tubuh mati jika tidak ada napas di dalamnya, dan setiap orang yang tidak bernapas adalah mati.
          Jadi jika orang tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, iman orang itu tidak berguna, atau jadi jika seseorang berkata, aku percaya kepada Allah,  tetapi tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, dia tidak sungguh-sungguh percaya.
         
B.   Relasi Iman dan  Perbuatan Berdasarkan Yakobus 2:24-26
          Berdasarkan uraian di atas tentang eksposisi Yakobus 2:14-26, maka penulis akan memaparkan relasi iman dan perbuatan dalam Konteks Keselamatan, seperti berikut ini:
1)   Iman Sejati Dipraktekkan Dalam Perbuatan
          Tidak ada gunanya kalau seseorang mempunyai iman yang tidak disertai perbuatan. Iman itu sendiri tidak dapat menyelamatkan atau dengan kata lain iman itu tidak akan diteima Allah. Iman itu tidak menyelamatkan dirinya dan karena itu tidak berguna. Tetapi istilah  “perbuatan”  ini jangan diartikan sama dengan pengertian yang biasa terdapat dalam surat-surat Paulus yaitu menaati peraturan hukum Musa. Disini yang dimaksud adalah perbuatan-perbuatan baik seperti belas kasihan (ay 13) dan pemberian sedekah kepada orang miskin yang berkekurangan (ay 15 dan 16); Perbuatan iman hasil moral dari kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih. Iman yang tidak disertai dengan perbuatan adalah iman yang palsu. Hanya iman palsu yang tidak dapat menghasilkan perbuatan dan tidak mampu menyelamatkan.
          Perbuatan bukan sesuatu yang ditambahkan pada iman – keduanya harus ada bersama-sama. Penulis tidak bermaksud untuk membedakan antara iman dan perbuatan; yang dibedakan adalah antara iman yang disertai perbuatan dan iman yang tidak disertai perbuatan. Bagi Yakobus iman harus disertai oleh perbuatan. Yang satu tidak dapat ada tanpa yang lain, sebab iman yang tanpa perbuatan adalah mati.
          Iman yang tanpa perbuatan bukan saja tidak berguna bagi diri orang yang bersangkutan, juga tidak bermafaat bagi orang yang membutuhkan bantuan. Orang hidup  dalam kekurangan yang disebutkan dalam ayat 15 dan 16 sangat mungkin mereka adalah saudara dan saudari seiman
2)   Iman dan Perbuatan Tidak Dapat Dipisahkan
          Ada orang yang bersandar kepada imannya dan ada pula yang bersandar kepada perbuatannya, keduanya tidak benar. Yakobus membantah dan mengatakan bahwa iman yang tidak ditunjukkan dengan perbuatan sama dengan iman yang dimiliki setan-setan (Yak. 2:19). Iman itu  adalah pemikiran umum yang intelektual dan iman itu dapat digabungkan dengan kejahatan. Sama seperti setan-setanpercaya dan melanjutkan kekejiannya, demikian pula engkau pun dapat percaya dan melanjutkan dosamu. Yang menjadi masalah bukan isi iman yang salah, melainkan iman itu tidak disertai perbuatan baik.
          Orang yang bersandar kepada imannya dan ada pula yang bersandar kepada perbuatannya, keduanya tidak benar. Tidak mungkin orang itu mengasihi Allah dan sesamanya (perbuatan) tanpa iman dan tidak orang mengaku beriman tanpa mengasihi Allah dan sesamanya.
          Tidak ada gunanya mengaku percaya pada Yesus Kristus, tetapi tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, atau jika engkau tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka tidak ada gunanya engkau mengaku percaya kepada Yesus Kristus.

3)   Iman Sejati Dibuktikan Melalui Perbuatan
          Perlu harus disadari bahwa harus ada iman dahulu, baru sesudah itu perbuatannya. Perbuatan-perbuatan adalah buah yang dengan sendirinya tumbuh dari iman itu. Perbuatan-perbuatan harus ada, namun bukan sebagai syarat yang mutlak ditambahkan untuk memperoleh keselamatan karena Allah telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, tetapi karena rahmatNya
          Iman harus ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan sehingga iman itu menjadi hidup bukannya mati. “Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa”, demikian tulisan Rasul Paulus dalam Roma 14:23. Sedangkan dasar iman itu sendiri adalah Kristus. Perbuatan baik adalah tanda bahwa kita telah diselamatkan.
          Iman disempurnakan dengan perbuatan-perbuatan. Artinya  iman membantu perbuatan terlaksana dalam kehidupan; Iman tidak dapat dikatakan “sejati” (sempurna) tanpa perbuatan yang nyata. Jika tidak ada perbuatan-perbuatan yang membuktikan iman yang diakuinya, itu berarti bahwa sebanarnya tidak ada iman yang hidup di dalam dirinya.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan yang penulis kemukakan dari bab I-III, maka pada bab ini penulis akan menyimpulkan dan memberikan saran-saran yang sesuai kepada orang percaya.

A.   Kesimpulan
          Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata. Manusia menerima keselamatan dari Allah hanya karena iman, bukan karena perbuatan. Setelah menerima keselamtan dengan cara demikian, manusia harus mengerjakan keselamatan itu di dalam kehidupan melalui perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan dan kerjakan. Jika manusia tidak aktif mengerjakan keselamatan dengan cara  demikian sesudah ia menjadi percaya, itu menunjukkan bahwa iman yang diakuinya dengan mulut itu adalah iman yang mati. Itu tandanya bahwa ia belum sungguh-sungguh mengalami keselamatan.
          Manusia tidak diselamatkan karena perbuatan. Tetapi perbuatan-perbuatan merupakan tanda apakah iman itu benar-benar hidup, sekaligus perbuatan-perbuatan itulah yang akan meningkatkan kadar iman orang percaya. 
          Perbuatan bukan sesuatu yang ditambahkan pada iman – keduanya harus ada bersama-sama. Yakobus tidak bermaksud untuk membedakan antara iman dan perbuatan; yang dibedakan adalah antara iman yang disertai perbuatan dan iman yang tidak disertai perbuatan. Bagi Yakobus iman harus disertai oleh perbuatan. Yang satu tidak dapat ada tanpa yang lain, sebab iman yang tanpa perbuatan adalah mati.
          Yakobus tidak bertentangan dengan Rasul-rasul lain, khususnya Rasul Paulus. Yakobus menghadapi tantangan berbeda dengan Paulus. Paulus berjuang melawan konsep para rabi Yahudi tentang keselamatan yang diperoleh perbuatan berdasarkan hukum taurat. Yakobus berhadapan dengan (a) Orang Kristen Yahudi yang memandang muka dan berpeluk tangan terhadap kebutuhan saudara seiman yang miskin. Yakobus ingin mendesak mereka bertindak. (b) Orang Kristen yang hanya bersandar pada iman tanpa perbutan. Oleh karena itu, yang  dimaksud perbuatan oleh Yakobus bukanlah perbuatan menurut pemahaman Yahudi yaitu sarana untuk memperoleh keselamatan, namun perbuatan iman hasil moral dari kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih. Sedangkan pekerjaan atau usaha yang dimaksud Paulus adalah usaha menaati hukum taurat sebagai yang olehnya mereka (yudaisme) diselamatkan.
         
B.   Saran
          Akhirnya penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1.    Orang percaya hendaknya menyatakan imannya melalui perbuatan baik terutama terhadap saudara seiman dan kepada semua orang.
2.    Orang percaya hendaknya dalam melalukan perbuatan baik bukan supaya diselamatkan melainkan sebagai bukti bahwa orang percaya sudah diselamatkan.


[1] JL. Ch. Abineno, Tafsiran Alkitab: Surat Efesus, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1997), hlm.57-58.
[2] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru II (Bandung: Yayasan KH, 1999), hlm. 201-202.
[3] Abineno, Op Cit hlm 57.
[4] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), hlm 407.
[5] F. Davidson dan Ralph P. Martin, Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1982), hlm 422.
[6] Tim Reality, Kamus Terbaru Bahasa Indonesia, (Surabaya: Realiti Publisher), hlm 298
[7]Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol 4: Doktein Keselamatan (Jakarta: LRII, 1997) hlm 197-201
[8] Derek Prince. Bertobat dan Percaya (Jakarta: Immanuel, 1995) hlm 72-74
[9] Ibid hlm 75-78
[10] Antony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah (Jakarta: Momentum, 2010), hlm180
[11] Herman Riderbos, Paulus: Pemikiran Utama Teologinya (Jakarta: Momentum, 2010) hlm135
 [12] Ibid, hlm 132
[13] T. Jacobs, Paulus: Hidup, Karya dan Teologinya (Yogyakarta: Kanisius, 1982) hlm 166
[14] Hasan susanto, Surat Yakobus: Berita Perdamaian yang Patut Didengar (Malang: SAAT, 2006) hlm 207-208
[15] Stephen Tong, Reformasi dan Teologi Reformd, (Jakarta:LRII, 1994), hlm 18
[16] R.C. Sproul. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: SAAT), hlm251
[17] Paul Ennes, Buku Pegangan Teologi Jilid 2, (Malang: Literatur SAAT, 2004) hlm 79
[18] Ibid
[19] Ibid
                [20] Douglas J. Moo, The Letter of James, (Grand Rapids: Wm. B. Eerdman, 1985) hlm 118, disunting oleh Hasan Susanto, Yakobus: Berita yang Patut Didengar, (Malang: SAAT, 2006) hlm 205
[21] Ibid  hlm 205
[22] J.J.W. Gunning, Tafsiran Alkitan Surat Yakobus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997) hlm 30
[23] I-Jin Loh dan Howard A. Hatton, Op. Cit. hlm78
[24] Charles F. Pfeifer dan Everent F. Harrison, Tafsiran Alkitab Wycliffe (Malang: Gandum Mas, 2001) hlm 978
[25] Ibid
[26] I-Jin Loh dan Howard A. Hatton, Op. Cit. hlm. 76
[27] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat Yakobus, 1& 2 Petrus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hlm 120
                [28] William Barclay, Op Cit, hlm 120
                [29] I-Jin Loh dan Howard A. Hatton, hlm 81
                [30] J.J.W. Gunning, Op Cit, hlm 30
                [31] Ronald A. Ward, Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1999) hlm 794
                [32] Hasan Susanto. Op. Cit.  hlm 205-206
                [33] I-Jin Loh dan Howard A. Hatton, hlm 82-83
                [34] Hasan Susanto. hlm 206
                [35] Doren Wijdana, Kupasan Firman Surat Yakobus, hlm 53
                [36] Hasan Susanto. hlm 266
                [37] Ibid
[38] Charles F. Pfeiffer dan Everent F. Harison, hlm 979
[39] Doren W. Kupasan Firman Allah: Surat Yakobus (Bandung: Lembaga Literatur Babtis) hlm 54
[40] Hasan Susanto. hlm 267
[41] Charles F. Pfeiffer dan Everent F. Harison, Ibid. hlm 979
                [42] Hasan Susanto. Yakobus: Berita yang Patut di Dengar (malang: SAAT, 2006) hlm 267
                [43] Hasan Susanto. hlm 268
                [44] Hasan Susanto, Ibid 270. Lihat pula penjelasan penulis pada  ayat 21 di 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar